Jumat, 18 September 2015

Belajar berserikat yang kuat dari para pendahulu...

Massa PUK AHM LEM SPSI,saat May day 2015
Percakapan P dan S Hal Perhimpunan Soeara Kaoem Buroeh, 1 Oktober,  15 Oktober dan 15 Nopember (nomor: 6, 7, 9) tahun 1921

P: “Apakah itu perhimpunan?”
S: “Berhimpun itu artinya:  menjadi   satu .”
P: “Apakah beda antara arti perkataan berhimpun dengan berkumpul?”
S: “O, kalau kata-kata tersebut, sama artinya.”
P: “Jadi kalau begitu, perkumpulan sama artinya dengan perhimpunan.”
S: “Memang tidak berbeda.”
P: “Dalam perhimpunan-pehimpunan itu saja kerap mendengar ada yang dinamakan  Pengurus  (bestuur) dan ada yang disebut   lid   (anggota), apakah arti kedua kata tersebut?”
S: “Lid  atau anggota dari perhimpunan itu, yaitu beberapa orang yang berkumpul menjadi satu badan perhimpunan tadi. Mereka itu bagi perhimpunan ada mengeluarkan pertimbangannya masing-masing guna memperkuat perhimpunannya. Dari anggota-anggota tersebut ada yang ditunjuk menjadi peluar-peluar, yaitu yang disebut pengurus. Pengurus inilah yang harus mencari akal untuk kemajuan perhimpunan yang diurusnya. Pengurus ini pula yang mengumpulkan beragam keinginan dan gagasan para anggota.”

P: “O, ya, ya, ya saya sudah mengerti. Nah, saudara S. bolehkah saya bertanya lagi?”
S: “Boleh. Tanyakan saja mana yang saudara belum mengerti, saya tidak jemu menjelaskan, bila saya memang tahu.”
P: “Bagaimanakah sifat pengurus yang terbaik terhadap perhimpunan?”
S: “Sifat pengurus itu harus merasa menjadi kaki dan tangan dan anggota badan lainnya untuk perhimpunannya. Artinya: pengurus itu harus dapat memenuhi dan suka bekerja untuk keperluan perhimpunan.”
P: “O, ya, sudah mengerti. Sekarang saya minta dijelaskan bagaimana caranya supaya kita punya perhimpunan yang kuat dan bagus?”
S: “Kalau saudara ingin mempunyai perhimpunan yang kuat, pertama-tama saudara harus selalu ingat bahwa perhimpunan dapat hidup bila punya  nyawa. Adapun yang saja sebut  nyawa  tersebut adalah uang. Iuran atau berbagai pemasukan lain. Kalau uang kas kuat, perhimpunan akan hidup baik; terutama bila tidak ada penyakit lain.”
P: “Masa’ sebuah perhimpunan mempunyai penyakit seperti manusia!”
S: “Memang mustahil kalau di satu perhimpunan timbul penyakit kudis atau yang lain. Yang saya maksud bukan penyakit seperti itu.” Contohnya dalam perhimpunan itu ada suatu hal yang menyebabkan berkurangnya uang kas. Tetapi bukan kekurangan yang disebabkan untuk kebutuhankebutuhan perserikatan, melainkan ada orang yang mengambil. Contohnya lagi, bila ada anggota-anggota perserikatan yang saling bertengkar dan bermaksud merobohkan perhimpunan, anggota semacam itu hanya memikirkan diri sendiri. Contoh ketiga: Para anggota ataupun para pengurus tidak mematuhi keputusan perhimpunan. Misalnya: ketika perhimpunan mengadakan rapat organisasi (vergadering) meskipun tidak ada halangan, namun tidak datang ke pertemuan rapat; menurut orang tersebut: sudah cukup bila telah membayar iuran. Padahal uang iuran tersebut hanya menjadi dana kita sesama anggota perhimpunan menjalankan program untuk merealisasikan cita-cita yang diidamkan. Kekuatan perhimpunan itu tentu harus berasal dari anggota dan pengurus. Bila perhimpunan tidak punya kekuatan, perhimpunan kini tinggal nama. Seperti halnya perhimpunan yang dibuat anak kecil yang tidak mempunyai keteguhan hati, dan mudah takut bila ada ancaman musuh.”
P: “O, begitu? Ya, saya sudah sedikit mengerti. Nah, coba saudara lanjutkan penjelasan tersebut.”
S: “Baiklah! Coba saudara dengarkan.  Saya akan meneruskan penjelasan saya. Perhimpunan itu, tadi saya umpamakan: orang yang hendak berjalan; iuran menjadi bekalnya. Misalkan saudara sendiri hendak berjalan. Yang saudara perlukan adalah kaki; kalau saudara sudah mempunyai kaki yang kuat (tidak terkena penyakit) tentu saudara dapat berjalan. Tetapi anggota badan yang lain seperti: tangan, mata, telinga, tentu juga ikut bekerja. Selain juga saudara selalu berpikir: ke mana kaki saudara harus bergerak.”
P: Saudara S! bersediakah saudara S menjawab pertanyaan saya terlebih dahulu?”
S: “Boleh, dengan senang hati saya akan menjawab. Hal mana yang masih mengganjal dan membuat ragu tanyakanlah: jangan saudara malu bertanya tentang hal yang belum saudara pahami.”
P: “Bolehkah sekarang saja mulai bertanya?”
S: “Ja, baik.”
P: “Tadi saudara mengatakan anggota badan perhimpunan, yang mana wujudnya di dalam perhimpunan? Seperti telah dikatakan tangan, kaki, atau lain-lainnya.”
S: “Penjelasannya begini:  Ketua  diandaikan  kepala. Di situ terletak otak atau tempat memikirkan berbagai hal. Sebab segala macam pekerjaan yang tidak dipikirkan bagaikan pohon yang tidak dapat berbuah. Jadi, Ketua itu menjadi pangkal nomor satu dari jalannya perhimpunan. Bila taktik Ketua tidak halus, perhimpunan dapat terjerumus. Begitu pula perjalanan orang tanpa pikiran. Jadi Ketua tidak boleh asal-asalan dalam mengambil keputusan. Bendahara dimisalkan  mulut,  perut dan dubur  jadi dia mesti hati-hati menerima, menyimpan dan mengeluarkan uang perhimpunan. Seperti juga orang makan, kalau dia makan tanpa dipikir dapat membuat sakit perut, begitu pula bila buang-airnya tanpa aturan . . . ”
P: “Tunggu sebentar! Yang dimaksud dengan makan dan buang air tanpa aturan itu yang bagaimana?”
S: “Lho, itu artinya, perhimpunan itu harus membuat peraturan, uang masuk, uang apa saja, dikeluarkan untuk apa saja, semua itu mesti ada catatannya. Misalkan meminta uang seenaknya, menggunakan uang seenaknya, hal-hal itu tidak dibenarkan.”
P: “O, begitu! Teruskan! Sekarang  Sekretaris.”
S: “Sekretaris itu dimisalkan  tangan. Ketua menyatakan pikirannya kepada anggota-anggotanya. Sekretaris yang menggambar pikiran itu dengan tulisan. Sebab itu Sekretaris mesti mengingat apakah pikiran yang baru tersebut tidak bermakna ganda atau bahkan berlawanan. Karena itu Sekretaris harus memegang dan menyimpan arsip. Sedang Pengawas yaitu diumpamakan  kaki,  kuping  dan  mata. Ia harus membantu kehendak  kepala  dan  tangan, misalnya tangan akan mengambil barang namun tidak terjangkau, tentu kaki harus berjalan. Mata  mesti melihat bila di badan terdapat kotoran atau tidak, begitu pula  kuping  mesti mendengar suara-suara (komentar, kritik, saran) terhadap perhimpunan. Bila itu semua terjadi kepala harus diberitahu. Begitulah  Pengurus  Perhimpunan dimisalkan  anggota  badan.”
P: “Ya, saya sudah mengerti. Tapi sekarang bagaimana anggota-anggota perhimpunan dimisalkan badan orang?”
S: “Yang disebut  badan  itu terdiri dari kepala, tangan, kaki, pantat, kulit, daging, darah dan lain-lain. Jadi, yang disebut badan perhimpunan itu yaitu: para pengurus dan para anggota. Kalau kepala, tangan dan kaki bertindak, tentu seluruh badan ikut semua. Dari itu tindakan Pengurus Perhimpunan juga merupakan tindakan badan perhimpunan, di dalam  badan  tersebut termasuk para pengurus dan para anggota. Sudah, sampai di sini dahulu. Lain waktu kita diskusi lagi.”
P: “O, ya baik! Terima kasih, saya jadi banyak pengetahuan karena diskusi ini.  Tot weer Zien, meneer! (sampai jumpa lagi)”
Sumber: zaman bergerak di Hindia Belanda

Selasa, 15 September 2015

HUBUNGAN ANTARA OTTOMAN DAN ACEH

Turki Ottoman dan Aceh, dua kesultanan yang secara geografis terpisah sangat jauh. Dua kesultanan ini pernah memiliki kedekatan hubungan bilateral  yang  terjalin cukup lama, yakni dari antara abad ke-16 hingga abad ke-19.
Sebenarnya Aceh bukanlah negara pertama di Asia Tenggara yang pernah memiliki hubungan dengan Ottoman.

Senin, 14 September 2015

TIGA PILAR EKONOMI SETAN

KISAH SUKUS DAN TUKUS
Syahdan di suatu samudera terdapat dua pulau yang bertetangga. Sebut saja Pulau Aya dan Pulau Baya. Di pulau Aya, suku Sukus hidup sejahtera.
Mereka dikarunia daratan yang subur. Mereka hidup bercocok tanam. Pertanian mereka menghasilkan aneka sayuran dan buah-buahan tropis. lkan dan sumberdaya laut sangat melimpah. Tidak hanya itu, Pulau Aya terkenal dengan panoramanya yang indah. Gemericik air terjun bisa ditemui di banyak tempat. Sungai-sungainya yang jernih juga menjadi daya tarik tersendiri. Tak heran bila pulau ini menjadi tempat tujuan para pelancong dan wisatawan lokal maupun luar pulau.

Masyarakat Sukus dikenal memiliki peradaban yang cukup maju. Mereka beruntung, pulau yang mereka tempati menghasilkan emas. Dan mereka bekerja keras untuk mendapatkan logam mulia ini.
Hampir semua anggota suku memiliki emas dan menyimpannya sebagai simbol harta kekayaan. Selain sebagai simbol peradaban, emas juga berfungsi sebagai alat transaksi. Sejak Saka, sang ketua suku, mencetak koin emas, maka semua transaksi jual beli yang semula dilakukan dengan barter beralih dan diukur dengan emas. Berdagang pun menjadi lebih mudah dan simpel. Meskipun begitu,  mereka tidak mendewa-dewakan emas sebagai satu-satunya pencapaian. Kehidupan sosial mereka tampak lebih penting.
Ini bisa dilihat-dari cara mereka yang saling tolong menolong. (Kami di dunia setan sangat membenci perilaku ini). Ketika anggota suku perlu membangun rumah baru karena rumah lama tersapu ombak, yang berarti menguras emas simpanannya. Anggota-anggota suku lainnya dengan suka rela meminjamkan emas miliknya. Hebatnya. tanpa charge atau tambahan apapun. "Dasar manusia bodoh, sudah meminjamkan uang kok tidak mau minta kompensasi." begitu gerutuan kami.
Kami semakin pusing karena tidak terbatas itu saja, mereka juga bergotong royong satu sama lain dengan ikhlas. Padahal kami ingin, paling tidak, mereka lakukan ini dengan riya. Pantaslah bila kehidupan mereka meskipun sederhana tapi diliputi semangat kesetiakawanan yang tinggi. Anggota suku terbiasa bahu-membahu mengatasi persoalan bersama. Boleh dikata, mereka hidup rukun dan damai.
Sementara pulau tetangganya, Pulau Baya didiami suku Tukus. Kebanyakan penduduknya bekerja sebagai petani. Mengolah lahan di sawah atau ladang dan memelihara lemak. Sebagian lagi yang memiliki ketrampilan khusus, memproduksi kerajinan tangan. Dibandingkan suku Sukus. mereka lebih sederhana. Mereka masih menggunakan sistem barter dalam transaksi keseharian. Yang menghasilkan padi menukar berasnya dengan kerajinan tangan atau sebaliknya. Boleh dibilang secara ekonomi, kesejahteraan mereka di bawah suku Sukus. Mereka memang kebanyakan hanya pekerja kasar. Mereka tidak memiliki pusat kota yang indah dan maju seperti halnya Sukus. Sesekali mereka menjual hasil bumi dan handicraft mereka ke suku Sukus. Mereka, apalagi para wanitanya, sangat senang menerima koin emas sebagai jasa dari padi atau kerajinan tangan yang mereka hasilkan. Meskipun berbeda dalam hal kesejahteraan. ada satu persamaan menonjol diantara Sukus dan Tukus. Mereka sama-sama hidup damai, rukun dan saling tolong-menolong. Mereka sering bersilaturahmi dan menjalankan ritual agamanya dengan tenang. Sampai akhirnya datang tamu istimewa ke suku Sukus.
Berpenampilan perlente dua orang asing turun dari kapal yang berlabuh di pulau Aya. Gaga dan Sago, begitu mereka mengenalkan diri saat dijamu oleh Saka, pimpinan suku Sukus. Kedua tamu ini disambut dengan suka cita. Saka dan para pembantunya sangat terkesan dengan kisah Gaga dan Sago yang mengaku sudah melanglang buana. Sebagai bukti, kedua orang asing itu lalu memamerkan koin emas asing yang mereka kumpulkan dari berbagai lempat perlawatan.
Satu hal lagi dan ini yang paling menarik bagi Saka dan punggawanya adalah kertas yang dinyatakan sebagai uang. Gaga dan Sago lalu memperkenalkan bagaimana uang kertas jauh lebih efisien ketimbang emas yang sehari-hari mereka pakai. Itulah kenapa uang kertas ini sudah dipakai di negara-negara yang jauh lebih maju dibanding tempat mereka tinggal. Gaga dan Sago yang mulai mendapat respon positif semakin bergairah menjelaskan uang kertas ini kepada sang tuan rumah.
Lalu, mereka memperkenalkan mesin pencetak uang. "Gambar Anda nanti akan terpampang dalam lembar uang kertas ini," Gaga menunjuk uang kertas sembari menyunggingkan senyum kearah Saka. "Benarkah?" sela Saka berbinar. Dalam hati Saka girang bukan kepalang. Seumur hidupnya, tidak ada orang yang memberikan penghormatan sebagaimana dua tamu istimewanya. Kami pun membisikkan ke dada Saka,"Hai Saka, kalau uang kertas bergambarkan dirimu diterbitkan, pasti kamu menjadi manusia terkenal hingga daratan yang pernah disinggahi para tamumu yang luar biasa itu."  "Seratus persen Anda akan menjadi orang terkenal!" Sago menimpali sembari mengangkat dua ujung jempol tangannya ke atas. Sago memang agen tulen kami. Tanpa kami bisikan sesuatu, ia sudah tahu apa yang harus diperbuat. Dan pujian itu pun melambungkan angannya. Ha…ha…ha... pancingan Gago dan sago mengena. Dua agen kami ini pun semakin antusias meyakinkan suku Sukus bahwa mata uang kertas akan sangat membantu membuat perekonomian mereka efisien.
Dan untuk kepentingan itu, sebuah institusi bernama bank perlu didirikan. Bank akan meyimpan deposit koin emas mereka yang menganggur (idle). Lalu uang deposan ini sebagai taktik, ya hanya sekadar taktik bisa dipinjamkan kepada anggota suku lainnya yang memerlukan. Dengan demikian, kesannya semua sumber daya yang ada menjadi optimal karena dialokasikan untuk kegiatan ekonomi produktif.
Suku Sukus yang terkenal suka membantu, sangat impresif dengan ide itu. Mereka pikir, lembaga ini sangat luar biasa karena bisa melanjutkan tradisi mereka untuk membantu orang lain. Jadilah ide itu diamini dan dilanjutkan dengan mendirikan bangunan yang difungsikan sebagai bank yang pertama di Pulau Aya.
Upacara pembukaan perdana Bank Aya, sebut aja begitu, sangat meriah.  Orang sepulau tumplek-blek jadi satu  merayakan hari bersejarah itu. Sebagian besar dari mereka sudah membawa koin-koin emas yang selama ini hanya disimpan di bawah bantal. Setiap satu koin emas yang mereka simpan, mereka mendapatkan ganti uang kertas dengan jaminan bila sewaktu-waktu mereka menghendaki, mereka bisa menukarkan kembali uang kertas yang saat ini mereka terima dengan koin emas yang pernah mereka simpan.
Hampir semua anggota suku Sukus menyimpan koin emas mereka di Bank Aya. Sejumlah 100.000 lembar uang kertas diserahkan, yang berarti Bank Aya yang dimotori Gago dan Sago menerima 100.000 koin emas. Tak terasa, akhirnya penduduk negeri Pulau Aya begitu menikmati uang kertas itu. Mereka merasakan dengan menggunakan uang kertas itu, transaksi yang mereka lakukan jauh lebih simpel dan nyaman.
Praktis semakin jarang orang yang menggunakan koin emas dalam transaksi sehari-hari. Sampai akhirnya uang kertas menjadi mata uang dominan. Kenapa mereka begitu? Karena selain lebih memudahkan transaksi, mereka juga dengan mudah menukarkan uang kertas mereka dengan koin emas jika mereka memerlukan. Untuk yang satu ini, Gaga dan Sago sangat menjaga kepercayaan. Setiap kali ada yang mau menukarkan, kali itu juga koin emas diberikan. Demikian seterusnya sehingga lama-lama orang tidak khawatir dengan uang kertas miliknya. Toh kalau mereka mau, mereka bisa menukarkannya sepanjang waktu.
Perkembangan ini ternyata menjadi berita di mana-mana. Suku Tukus yang mendiami pulau
Baya, diam-diam memuji dan ingin sekali praktik yang sama juga diterapkan di pulau mereka.
Bayangkan, dari semula melakukan jual beli dengan cara barter, tiba-tiba ada sistem super canggih yang bisa membantu mereka melakukan transaksi dengan sangat mudah dan efisien.
Tak sabar, mereka mengutus duta menemui Gaga dan Sago. Mereka minta agar sistem yang
mereka bawa juga bisa diterapkan di Pulau Baya.
Gaga menyanggupi. Dia meminta Sago untuk membuka cabang Bank Aya di Pulau Baya dan mengangkat Sago sebagai manajernya. Hanya bedanya, di sini hanya sedikit penduduknya yang memiliki koin emas. "Anda tidak perlu kecil hati," kata Sago menghibur."Tanpa koin emas pun Anda bisa mengenyam kenikmatan sebagaimana tetangga pulau Anda," dia bermanis-manis menerangkan. Tentu saja keterangan ini disambut gembira oleh penduduk Pulau Baya. Aha!, Sago belul-betul agen kami yang cemerlang. Otak bulusnya benar-benar tidak  menyimpang dari program yang sudah kami tanamkan: keserakahan.
Begitulah. Mulailah Sago membagikan uang kertas. Ada 100 kepala keluarga di pulau itu. Setiap kepala keluarga diberikan 100 lembar uang. Jadi total uang yang tersirkulasi di pulau itu mencapai 100.000. "Karena Anda tidak menyimpan koin emas seperti halnya penduduk pulau seberang, sebagai gantinya. Anda bisa menggunakan uang yang telah saya bagikan."
Apa yang dikatakan Sago itu disambut dengan senang. Tepuk tangan riuh membahana. Mereka bersyukur, sebentar lagi negeri mereka tidak akan sekolot dan seprimitif tempo hari. Namun, kemeriahan itu sempat hening ketika Sago menyela, "Harap diingat. Uang yang saya bagikan tadi tidak gratis. Ini adalah pinjaman. Nanti setelah setahun dari saat ini, Anda harus mengembalikan uang ini plus 100 lembar uang tambahan." "Kenapa harus ada tambahan 100? Kenapa tidak mengembalikan sejumlah yang kami pinjam?" seorang pemuka suku Tukus menyela. "Huuh ! Dasar manusia bebal," umpat kami yang tak sabar mendengar jawaban cerdas dari Sago. "Betul Anda memang hanya meminjam 1000. Yang 100 itu adalah untuk membayar jasa yang kami sedikan," Sago dengan senyum lepas menjelaskan. Penjelasan brilian! Kami turut puas mendengar Sago. Tak terasa air liur kami berloncatan di sela-sela taring-taring kami yang panjang menunggu agar para manusia bodoh itu tak lagi rewel menyoal tambahan yang wajar. Meski ada yang masih mengganjal, penjelasan Sago cukup tepat untuk membungkam naluri kritis warga Tukus. Itu terlibat dari tak surutnya minat
warga Tukus untuk mengambil tawaran Sago. Paling tidak, mereka bisa merasakan mudahnya bertransaksi dengan uang kertas. Dan yang lebih penting lagi, menikmati status sebagai warga dunia baru, Modern dan prestisius.
Setelah sekian lama, dua agen kami itu mulai memainkan kartu truf. Dan pengamatan Gaga, di pulau Aya, rata-rata hanya sekitar 10 persen uang kertas yang ditukarkan ke koin emas pada setiap waktu. Sisanya, 90 persen tetap berada di kotak penyimpanan di Bank Aya. Mencermati bahwa uang kertas mereka sudah merajai alat tukar, kami pun tergelak. "Hai Gaga, kenapa tidak kau cetak uang lagi? Bukankah hanya sedikit dari mereka yang menukarkan uang kertasnya dengan koin emas? Bukankah kau bisa meraup untung luar biasa dengan cara ini? Ayolah kawan, tunjukkan otak cerdasmu," begini kami tak henti menggelitiki Gaga.
Dan benar, Gaga memang agen kami yang jempolan. Ia lalu mencetak uang kertas lebih banyak. Tidak tanggung-tanggung hingga 900.000. Dalam kalkulasinya, jumlah ini, ditambah jumlah uang kertas yang telah dibagikan sebelumnya, totalnya 1.000.000. Kalau ada orang yang datang hendak menukarkan uang kertas ini, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah hanya 10 persen saja. Nah, kalau ini yang terjadi, bukankah ia menyimpan 100.000 koin emas, yang tidak lain adalah koin yang telah disetor oleh seluruh penduduk Sukus? Kalau hitung-hitungan pahit itu benar-benar terjadi, bukankah cadangan koin emas yang diperlukan sudah cukup?
Fantastic! Creating Money from nothing!
Menciptakan uang dari kekosongan. Hanya orang-orang seperti Gaga, kawan kami, yang bisa.
Begitulah. Akal bulas Gaga bergerak. la pinjamkan 900.000 uang kertas yang baru dicetaknya kepada warga Sukus yang memerlukan. Kalau di pulau Baya, Sago mengutip tambahan ekstra sebesar 10 persen dari pokok, nah Gaga meningkatkan kutipan hingga 15 persen. Artinya kalau seseorang meminjam 1000 lembar uang kertas. di akhir tahun ia harus mengembalikan 1150 uang kertas. di mana 150-nya adalah charge dari layanan yang diberikan. Hari pun berganti.
Bulan berjalan begitu cepat.
Tak terasa setahun pun lewat. Apa yang terjadi dengan suku Sukus dan Tukus? Pelan tapi pasti. penduduk pulau Aya merasakan harga-harga kebutuhan barang dan jasa mereka naik. Mereka tidak tahu apa penyebabnya. Banyak di antara orang yang meminjam uang dari Gaga itu mengalami gagal bayar. Mereka bukan orang pemalas atau penganggur. Tapi meski telah bekerja keras, mereka masih kesulitan melunasi utang berikut bunganya. Dan mereka memang tidak akan pernah bisa. Bahkan ketika mereka menjadikan 24 jam untuk bekerja. Lihatlah. uang yang dipinjamkan 900.000 bila ditambah bunga 15 persen. berarti senilai 135.000 atau jumlah total mencapai 1.135.000. Padahal. jumlah uang yang beredar hanya 1.000.000 (100.000 diberikan sebagai ganti 100.000 keping koin emas. ditambah uang baru
900.000 yang dicetak Gaga).
Dan inilah panen raya yang kami tunggu. Kesuksesan Gaga dan Sago. Kami sebut begitu, karena sistem yang dikenalkan dua agen top kami itulah yang pertama kali mengubah watak bisnis kekeluargaan menjadi bisnis yang individual kompetitif. Kehidupan sosial mereka yang harmonis, penuh toleransi dan tolong menolong, perlahan luntur. Masing-masing kepala apalagi yang berhutang harus bekerja keras demi mengejar uang untuk melunasi kewajibannya. Sehingga,  ketika ada ombak besar menyapu sebagian rumah penduduk.
kebiasaan mereka untuk saling bantu luntur, Prinsip saling membantu berubah menjadi time is money.
Membantu orang boleh, tapi harus ada kompensasinya: uang. Sisi kehidupan sosial yang akrab perlahan berubah individual. Masing-masing mulai terbebani untuk berusaha keras untuk kepentingan masing-masing. Sungguh perubahan yang sulit sekali kami capai sendirian. bila tanpa dua kaki tangan kami si Gaga dan Sago.
Hal yang sama pun dialami oleh Suku Tukus. Awalnya mereka tidak menyadari. Namun, lambat laun mereka merasakan perubahan. Kebutuhan pokok yang dulunya cukup ditukar dengan barang kerajinan atau sebaliknya, kini mulai sedikit bermasalah. Mereka tidak tahu kenapa tanpa terasa, dengan berlalunya waktu, harga-harga terus merambat naik. Padahal, mereka telah membanting tulang dan bekerja lebin keras. Kerjasama antar warga yang semula menjadi tradisi, lama-kelamaan juga mulai luntur. Mereka menjadi egois, diburu kebutuhan masing-masing. Toh di akhir tahun tidak semua bisa membayar kewajibannya. Seperti dialami suku Sukus, suku Tukus pun anggotanya banyak yang default alias gagal bayar.
Melihat perkembangan ini, kami di dunia setan pun bersuka ria. Betapa tidak, dimana kerakusan menjadi idiologi, di sinilah singgasana kami dibangun.
Karena itu. kami pun semakin rajin membisiki Gaga dan Sago untuk tidak hany berhenti di sini saja. Tapi untuk semakin menguasai manusia-manusia bodoh yang dunianya berlagak saling bantu itu.
Gaga dan Sago memang sangat impresif. Mereka adalah ciptaan jenius. Terbukti ketika mereka melancarkan dua trik lanjutan untuk memenangkan keadaan. Kepada para penunggak sebagian ada yang dipaksa membayar. Caranya, dengan menyita harta benda mereka. Rumah, sawah, ternak dan maupun harta benda lainnya pun segera berpindah tuan. Sementara penunggak yang mempunyai hubungan baik dengan Gaga dan Sago diberi kesempatan untuk memperpanjang masa angsuran. Kebetulan Taka, pimpinan suku Tukus, salah seorang di antara penunggak. Maka untuk atas nama "kebaikan hati" Sago bukan saja memberikan tambahan waktu mengangsur utang, tapi juga memberikan tambahan utang baru.
Kenapa? Dia beralasan utang ini biar bisa dipakai untuk melancarkan kegiatan produktifnya. Namun alih-alih bisa membayar periode berikutnya, Taka kembali tak bisa melunasi utangnya.
Malu karena tak bisa membayar kewajiban, Taka menarik diri dan menghindari bertemu dengan Sago. Ia mulai kehilangan kepercayaan diri.
Kewibawaannya sebagai kepala Suku Tukus berbalik ke titik nadir.  Sementara, Sago yang semula berlagak membantu, kini tinggal melakukan eksekusi. Ia semakin kaya. Ia pun berubah lagaknya Tuan Besar. Ha..ha...ha... Dalam dunia kami, kedua agen ini memang layak sombong.
Karena kepintaran dan kejeniusannya. Hanya orang-orang dengki saja yang menyebut cara-caranya menguasai manusia-manusai bodoh itu sebagai keculasan. Tidak bermoral? Ini hanya retorika gombal, persetan dengan moral.
Setelah beberapa tahun berselang, Gaga dan Sago yang semula datang ke Aya dan Baya dengan modal mesin pencetak uang, kini telah menjadi pemilik hampir semua kekayaan di dua pulau tersebut. Mereka menguasai ekonomi dan properti.
Lambat laun, dengan uang, mereka pun beroleh kekuasaan baru: menguasai politik negeri itu.
Sementara masyarakat dua pulau itu tinggalah sebagai pekerja kasar. Kemiskinan tiba-tiba seperti menjadi endemik yang terus menyebar cepat.
Mereka bekerja keras, untuk hasil yang sedikit. Mereka kehilangan waktu untuk saudara dan tetangga. Mereka semakin jarang melakukan upacara keagamaan. Lebih parah lagi, mereka semakin tidak perhatian satu sama lain.
Kejahatan yang semula hanyalah cerita yang sering mereka dengar dari negara antah berantah, kini menghampiri marak di depan hidung mereka sendiri. Karena tidak bisa bayar utang, mereka mengorbankan anak dan bahkan istrinya untuk diperbudak. Prostitusi yang semula begitu tabu bagi mereka, seperti menjadi budaya baru. Semua budaya yang datang dari Gaga dan Sago, dianggap superior. Budaya lokal pun lambat laun punah. Gaga dan Sago telah menguasai semua, tak ada yang tersisa: ekonomi, budaya, kekuasaan dan keadilan yang bisa mereka beli melalui uang.
Namun ini bukan akhir petualangan mereka. Mereka tak hanya ingin menaklukkan dua pulau Aya dan Baya. Mereka ingin semua pulau di dunia berada dalam pengaruh kekuasaan mereka. Target mereka bukan untuk menaklukkan tentara musuh di negara-negara jauh. Tapi, menaklukkan ekonomi mereka. Membuat mereka terkesan, lalu ketika saatnya tiba, mencekik mereka dengan sekali hentak: melalui uang kertas tanpa jaminan, aturan
cadangan 10 persen dan bunga. Tiga kombinasi jurus ini, sudah terbukti ampuh. Setidaknya, dua penduduk negeri sudah mereka kuasai.
Perangkap inilah yang dengan cerita dan intensitas berbeda terjadi dalam krisis di Asia Tenggara. Cara-cara yang sama akan terus kami kembangkan, sehingga segelintir agen kami yang berkuasa, menyisakan masyarakat banyak yang hidup sengsara. Kalau di kawasan itu sekarang  sudah mulai recovery, sasaran bisa dialihkan ke tempat lain.
Boleh juga, di kawasan yang sama, tentu menunggu saat yang tepat untuk muncul kembali.
Saat-saat balon ekonomi dan keuangan tak lagi bisa menggelembung. Saat-saat ketika manusia kelimpungan. Saat-saat ketika kami untuk kesekian kali merayakan kemenangan karena tiga pilar utama setan Fiat Money, fractional reserve requirement, dan interest  berhasil menggoyang ekonomi.

Sumber: buku satanic finance

KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU

Keutamaan menuntut ilmu dan Manhaj thalabul ilmi
# Ilmu adalah apa yg diucapkan Allah dan Rasul-Nya.
# Allah akan mengangkat derajat orang yg beriman dan berilmu.
# Mujadilah:11 menjadi dalil orang yg berilmu derajatnya tinggi disisi Allah.
# kejahilan merupakan penyakit bagi orangnya, maka obatnya ada dua yaitu:
1. Wahyu Alquran dan Assunah
2. Bimbingan dari para ulama.
# fiqih dikalangan salaf ada dua yaitu:
1. Fiqih halal dan haram
2. Fiqih hati, yaitu ilmu marifatullah.
#  menuntu ilmu adalah ibadah kepada Allah azza wa jalla.
# penghalang dari ilmu yg bermanfaat adalah Subhat.
# ilmu terbagi dua yaitu:
1. Fardhu ain yaitu ilmu aqidah dan ilmu yg dengannya menjadi baik ibadah seseorang.
2. Fardhu kifayah yaitu ilmu yg membahas suatu masalah secara terperinci.
# sifat penuntut ilmu
1. Ikhlas, hanya mengharapkan wajah Allah.
2. khassyah, rasa takut kpd Allah.
3. Attiqrar, mengulang-ulang pelajaran.

Catatan kajian
Masjid NI(hijau)
15 sept 2015